PERJUANGAN KH. IMAM MUHYIDDIN
Pondok Pesantren
Minhajul Huda tidak berdiri langsung dengan segala fasilitas yang kita saksikan
pada saat ini. Minhajul Huda tumbuh dan berkembang selaras dengan perjuangan
yang tak mengenal lelah, perjuangan yang didasarkan atas niat ibadah Liillai
kalimatillah dan mencerdaskan kehidupan generasi muda agar menjadi manusia yang
memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Pondok Pesantren
Minhajul Huda dengan cita-cita pendiri pondok yang berkeinginan memadukan pendidikan
dengan berbudayakan salafiyah (klasik) dan bersistem modern, dengan tujuan agar
pondok dapat mecetak kader-kader yang
siap menjawab tantangan perkembangan zaman (baca: modernitas), dengan berlandaskan
menjaga tradisi dan merespon modernisasi.
Pada tanggal
26 November tahun 1992 dengan amanat yang diberikan oleh K.H Dawam Anwar
Pendiri Pon-Pes YAPINK Tambun,Bekasi kepada K.H Imam Muhyiddin untuk mendirikan
Pondok pesantren yang terletak di dusun Serbanyaman, Desa Cempaka Timur,
KecamatanSungkai Jaya, Kabupaten Lampung Utara, yang bermula dari ketaatan dan
ketawadu’an seorang murid kepada guru, KH. Imam Muhyiddin tanpa membantah dan menolak
perintah seorang guru meskipun belum mengetahui letak geografisnya, betapa
berat amanah yang diamanatkan kepada
beliau.
Sungguh pundemikian,
tanpa rasa takut dan ragu KH. Imam Muhyiddin karena ketaatanya terhadap amanat
guru maka beliau menerima perintah untuk mendirikan Pondok Pesantren yang dapat
kita saksikan sekarang.
KH. Imam
Muhyiddin lahir di Semarang tanggal 12 Maret 1957 ,anak pertama dari 12
bersaudara pasangan bapak Nadin dan ibu Nyami. Sejak kecil beliau membantu kedua
orang tua dengan berjualan arang untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.beliau
tetap memiliki keinginan yang sangat tinggi untuk belajar, walau dengan kondisi
ekonomi yang lemah. Pada akhirnya beliau dengan niat dan tekat yang tinggi,
beliau meminta izin kepada kedua orang tua untuk menimba ilmu di pondok pesantren
blitang sumsel. Lalu jombang tambak beras jombang yang pada akhirnya menuju bekasi
jawa barat.
Sejak muda
beliau tergolong pemuda yang aktif diberbagai kegiatan organisasi pemuda,
kemasyarakatan dan keagaman dengan ditugaskan oleh NU untuk berdakwah di Bali
sebagai bukti kecintaan beliau terhadap dunia pendidikan agama khususnya, yang pada akhirnya beliau pernah
menjabat sebagai Ketua GP
Ansor Bekasi Jabar dan Rois Suriah PCNU Lampung Utara
K.H Imam
Muhyiddin memulai kiprahnya membangun lembaga pendidikan Pondok Pesantren yang
diberinama PPMH. Kala itu, yang menjadi santri pertamanya yang tak lain adalah saudara-saudaranya
juga, beberapa warga sekitar Dusun serbanyaman.
Romantika
PPMH pada masa silam adalah cerita air mata keprihatinan, perjuangan yang penuh dengan keterbatasan. Namun
tidak menyurutkan niat untuk mengabdi dan menebar ilmu pengetahuan. Niat dan kemauan
yang kuat itu menjadi modal untuk terus
merayap penuh keyakinan disertai ketekunan dan kesabaran. Disamping itu keinginan
untuk melahirkan kader pemimpin umat yang beriman, bertaqwa dan berpengetahuan,
PPMH terus berpacu, mengikuti irama dunia pendidikan dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Selaras dengan fungsinya sebagai lembaga tafaquh fil diin, yang
berprinsip sebagai lembaga pendidikan yang berdiri di atas dan untuk semua golongan.
Sebagai lokomotif KH. Imam Muhyiddin terus berjuang menghadang tantangan, menghalau segala cobaan yang
datang. Tidak sedikit tekanan maupun beban perasaan yang beliau rasakan. Namun,
bendera telah ia tancapkan, layar telah ia kembangkan, pantang baginya untuk mundur
surut kebelakang. Beragam peristiwa dengan selaksa keprihatinan ia rasakan,
bermandikan peluh dan tetesan air mata. Bermodal keyakinan akan kekuasaan dan kekayaan
Tuhan, ia terus berjalan menatap masa depan dalam membangun PPMH.
Perkembangan
PPMH mulai tampak pada tahun 2003, ketika PPMH dapat mengirim santri untuk
melanjutkan pendidikan di cairo mesir Universitas Al-Azhar, dan membuktikan
bahwa Santri PPMH dapat bersaing Dinegri Asing meskipun PPMH berada jauh dari
pekotaan. Dan kini pada usianya yang semakin bertambah PPMH berdiri diatas
tanah seluas 2 hektar.
Pada
tahun 2014 sebagai langkah kaderisasi dan suksesi kepemimpinan pesantren pada
masa yang akan datang, maka ppmh menyiapkan kader untuk membantu K.H Imam
Muhyiddin dalam menjalankan estafet perjuangan, Beliau Mengkader Gus Taufiq Hidayatullah,
Ning Rizqia Irfana, Gus Mamad Fajar Nakida dan Gus Faishol Faruq Al Anshori
untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Minhajul Huda.
Semua
itu terwujud dengan berpijak kepada prinsip-prinsip dasar yang telah dibuat
oleh K.H Imam Muhyiddin, disertai kebersamaan, komitmen dan kerja keras semua
elemen yang ada di dalamnya. “Minhajul Huda tidak boleh terkenal karena
kyainya, akan tetapi, Minhajul Huda harus terkenal karena sistem yang ada di
dalamnya.” Begitulah pesan KH. Imam
Muhyiddin.
Innalillahi
Wainna Ilaihrrajiun Allah SWT mencintai hamba-hamba Nya yang beriman dan
bertaqwa kepada Nya, Pada tanggal 11 Dzulhijjah 1436 H bertepatan pada 25
September 2015 KH. Imam Muhyiddin kembali kerahmatullah dengan meninggalkan
3orang putra,1 putri, serta sejuta karya dan amanah yang besar.
Pada
malam Ketujuh hari meninggalnya K.H Imam Muhyiddin diangkatlah putra pertama
dari KH. Imam Muhyiddin yaitu Gus Taufik Hidayatullah Sebagai Penerus estafet
kepemmpinan Pon-Pes Minhajul Huda.
Apa yang
dihasilkan ppmh saat ini adalah buah dari perjuangan yang tak kenal lelah dan
kesungguhan yang tak pernah kendur dan tentunya anugerah, karunia, dan barakah
Allah SWT. “Jangan mencari banyak, tetapi carilah Ridho Allah”. Demikian
pula K.H Imam Muhyiddin berpesan semasa hidupnya. Tidak ada mantan kiyai
dan pondok, ingat nak jangan pelit dengan Kiyai, “Minhajul Huda jangan terkenal karena kiyainya, akan tetapi
terkenal dengan sistem yang ada didalamnya”.
Setelah 23
tahun berdiri, PPMH terus berpacu dengan waktu, membawa amanat dan kepercayaan umat.
23 tahun silam menjadi refleksi perjalanan panjang Minhajul Huda. perjalanan
yang dibalut suka dan duka yang menjadi cerita dan romantika yang tetap terpatri
di kedalaman hati, perjalanan yang akan terkenang selama hayat masih di kandung
badan.
