Jumat, 08 Maret 2019

Sejarah Singkat Pondok Pesantren Minhajul Huda


PERJUANGAN KH. IMAM MUHYIDDIN 

Pondok Pesantren Minhajul Huda tidak berdiri langsung dengan segala fasilitas yang kita saksikan pada saat ini. Minhajul Huda tumbuh dan berkembang selaras dengan perjuangan yang tak mengenal lelah, perjuangan yang didasarkan atas niat ibadah Liillai kalimatillah dan mencerdaskan kehidupan generasi muda agar menjadi manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Pondok Pesantren Minhajul Huda dengan cita-cita pendiri pondok yang berkeinginan memadukan pendidikan dengan berbudayakan salafiyah (klasik) dan bersistem modern, dengan tujuan agar pondok dapat mecetak kader-kader  yang siap menjawab tantangan perkembangan zaman (baca: modernitas), dengan berlandaskan menjaga tradisi dan merespon modernisasi.
Pada tanggal 26 November tahun 1992 dengan amanat yang diberikan oleh K.H Dawam Anwar Pendiri Pon-Pes YAPINK Tambun,Bekasi kepada K.H Imam Muhyiddin untuk mendirikan Pondok pesantren yang terletak di dusun Serbanyaman, Desa Cempaka Timur, KecamatanSungkai Jaya, Kabupaten Lampung Utara, yang bermula dari ketaatan dan ketawadu’an seorang murid kepada guru, KH. Imam Muhyiddin tanpa membantah dan menolak perintah seorang guru meskipun belum mengetahui letak geografisnya, betapa berat  amanah yang diamanatkan kepada beliau.
Sungguh pundemikian, tanpa rasa takut dan ragu KH. Imam Muhyiddin karena ketaatanya terhadap amanat guru maka beliau menerima perintah untuk mendirikan Pondok Pesantren yang dapat kita saksikan sekarang.
KH. Imam Muhyiddin lahir di Semarang tanggal 12 Maret 1957 ,anak pertama dari 12 bersaudara pasangan bapak Nadin dan ibu Nyami. Sejak kecil beliau membantu kedua orang tua dengan berjualan arang untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.beliau tetap memiliki keinginan yang sangat tinggi untuk belajar, walau dengan kondisi ekonomi yang lemah. Pada akhirnya beliau dengan niat dan tekat yang tinggi, beliau meminta izin kepada kedua orang tua untuk menimba ilmu di pondok pesantren blitang sumsel. Lalu jombang tambak beras jombang yang pada akhirnya menuju bekasi jawa barat.
Sejak muda beliau tergolong pemuda yang aktif diberbagai kegiatan organisasi pemuda, kemasyarakatan dan keagaman dengan ditugaskan oleh NU untuk berdakwah di Bali sebagai bukti kecintaan beliau terhadap dunia pendidikan  agama khususnya, yang pada akhirnya beliau pernah menjabat  sebagai  Ketua   GP Ansor Bekasi Jabar dan Rois Suriah PCNU Lampung Utara
K.H Imam Muhyiddin memulai kiprahnya membangun lembaga pendidikan Pondok Pesantren yang diberinama PPMH. Kala itu, yang menjadi santri pertamanya yang tak lain adalah saudara-saudaranya juga, beberapa warga     sekitar  Dusun serbanyaman.
Romantika PPMH pada masa silam adalah cerita air mata keprihatinan,  perjuangan yang penuh dengan keterbatasan. Namun tidak menyurutkan niat untuk mengabdi dan menebar ilmu pengetahuan. Niat dan kemauan yang   kuat itu menjadi modal untuk terus merayap penuh keyakinan disertai ketekunan dan kesabaran. Disamping itu keinginan untuk melahirkan kader pemimpin umat    yang beriman, bertaqwa dan berpengetahuan, PPMH terus berpacu, mengikuti irama dunia pendidikan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Selaras dengan fungsinya sebagai lembaga tafaquh fil diin, yang berprinsip sebagai lembaga pendidikan  yang berdiri di atas dan untuk semua golongan.
Sebagai lokomotif  KH. Imam Muhyiddin  terus berjuang menghadang  tantangan, menghalau segala cobaan yang datang. Tidak sedikit tekanan maupun beban perasaan yang beliau rasakan. Namun, bendera telah ia tancapkan, layar telah ia kembangkan, pantang baginya untuk mundur surut kebelakang.  Beragam peristiwa dengan selaksa keprihatinan ia rasakan, bermandikan peluh dan tetesan air mata. Bermodal keyakinan akan kekuasaan dan kekayaan Tuhan, ia terus berjalan menatap masa depan dalam membangun PPMH.
Perkembangan PPMH mulai tampak pada tahun 2003, ketika PPMH dapat mengirim santri untuk melanjutkan pendidikan di cairo mesir Universitas Al-Azhar, dan membuktikan bahwa Santri PPMH dapat bersaing Dinegri Asing meskipun PPMH berada jauh dari pekotaan. Dan kini pada usianya yang semakin bertambah PPMH berdiri diatas tanah seluas 2 hektar.
Pada tahun 2014 sebagai langkah kaderisasi dan suksesi kepemimpinan pesantren pada masa yang akan datang, maka ppmh menyiapkan kader untuk membantu K.H Imam Muhyiddin dalam menjalankan estafet perjuangan, Beliau Mengkader Gus Taufiq Hidayatullah, Ning Rizqia Irfana, Gus Mamad Fajar Nakida dan Gus Faishol Faruq Al Anshori untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Minhajul Huda.
Semua itu terwujud dengan berpijak kepada prinsip-prinsip dasar yang telah dibuat oleh K.H Imam Muhyiddin, disertai kebersamaan, komitmen dan kerja keras semua elemen yang ada di dalamnya. “Minhajul Huda tidak boleh terkenal karena kyainya, akan tetapi, Minhajul Huda harus terkenal karena sistem yang ada di dalamnya.” Begitulah pesan  KH. Imam Muhyiddin.
Innalillahi Wainna Ilaihrrajiun Allah SWT mencintai hamba-hamba Nya yang beriman dan bertaqwa kepada Nya, Pada tanggal 11 Dzulhijjah 1436 H bertepatan pada 25 September 2015 KH. Imam Muhyiddin kembali kerahmatullah dengan meninggalkan 3orang putra,1 putri, serta sejuta karya dan amanah yang besar.
Pada malam Ketujuh hari meninggalnya K.H Imam Muhyiddin diangkatlah putra pertama dari KH. Imam Muhyiddin yaitu Gus Taufik Hidayatullah Sebagai Penerus estafet kepemmpinan Pon-Pes Minhajul Huda.
Apa yang dihasilkan ppmh saat ini adalah buah dari perjuangan yang tak kenal lelah dan kesungguhan yang tak pernah kendur dan tentunya anugerah, karunia, dan barakah Allah SWT. “Jangan mencari banyak, tetapi carilah Ridho Allah”. Demikian pula K.H Imam Muhyiddin  berpesan semasa hidupnya. Tidak ada mantan kiyai dan pondok, ingat nak jangan pelit dengan Kiyai, “Minhajul Huda  jangan terkenal karena kiyainya, akan tetapi terkenal dengan sistem yang ada didalamnya”.
Setelah 23 tahun berdiri, PPMH terus berpacu dengan waktu, membawa amanat dan kepercayaan umat. 23 tahun silam menjadi refleksi perjalanan panjang Minhajul Huda. perjalanan yang dibalut suka dan duka yang menjadi cerita dan romantika yang tetap terpatri di kedalaman hati, perjalanan yang akan terkenang selama hayat masih di kandung badan.